IKLAN BULAN INI

Showing posts with label Traditional Market. Show all posts
Showing posts with label Traditional Market. Show all posts

Sunday, 23 May 2010

Surakarta Siapkan Peraturan Pasar Modern

Minggu, 30 Mei 2010 | 15:16 WIB

TEMPO Interaktif, Surakarta - Pemerintah kota Surakarta tengah menyiapkan peraturan daerah (perda) tentang pasar modern. Aturan ini dibuat untuk melindungi pasar tradisional dari serbuan pasar modern.

Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Surakarta Subagiyo mengatakan peraturan daerah tersebut disiapkan agar pasar modern tidak menjadi pesaing pasar tradisional. “Saling mendukung karena memiliki keunggulan masing-masing,” ujar Subagiyo kepada Tempo, Minggu (29/5).

Dia mencontohkan, dalam perda pengaturan pasar modern akan dibahas hal-hal teknis seputar operasional. Misalnya, larangan bagi pasar modern untuk beroperasi 24 jam. “Operasionalnya harusnya di luar jam operasional pasar tradisional yang biasanya dari dini hari hingga pagi menjelang siang,” tuturnya.

Sehingga dia mengusulkan jam operasi pasar modern antara pukul 10 pagi hingga 10 malam. Saat ini dia mengakui dari total 24 buah pasar modern berjejaringan, ada yang beroperasi selama 24 jam. “Nanti kalau sudah ada perdanya bisa ditertibkan,” tandasnya.

Selain jam operasional, lokasi pasar modern tidak boleh terlalu dekat dengan pasar tradisional. Mengingat geografis Surakarta, dia mengatakan paling tidak dalam radius 500 meter. “Kalau sekarang ini kan terlalu dekat,” katanya. Ia menambahkan bagi yang sudah telanjur berdiri dan beroperasi diberikan pengecualian.

Pasar modern juga akan diminta menggunakan tenaga kerja dari masyarakat sekitar sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi. Juga, menjalin kemitraan dengan masyarakat sekitar. “Misalnya memberi kesempatan masyarakat sekitar untuk turut berjualan di sekitar lokasi dengan penyediaan tempat. Atau mengambil produk-produk masyarakat seperti kerajinan untuk dijual di pasar modern tersebut,” katanya.

Subagiyo mengatakan perda tersebut baru akan disusun setelah perda perlindungan dan pengelolaan pasar tradisional selesai dievaluasi Gubernur Jawa Tengah. “Setelah selesai, baru kami masuk ke perda untuk pasar modern. Mungkin akhir tahun ini sudah mulai masuk tahap pembahasan,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Pasamuan Pasar Tradisional Surakarta Wiharto berharap kehadiran perda pengaturan pasar modern benar-benar mampu mengakomodir kepentingan pedagang tradisional. Dia berharap pasar tradisional tidak tergerus oleh pasar modern.

“Terutama yang perlu diatur terkait jarak dan jam operasional,” sebutnya. Selain itu, turut diperhatikan adalah tingkat kebutuhan masyarakat terhadap kehadiran pasar modern di lokasi tertentu.

UKKY PRIMARTANTYO

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa_lainnya/2010/05/30/brk,20100530-251301,id.html
Read more ...

Wednesday, 10 February 2010

Harga Pakan Naik, Tak Sebanding Harga Susu

Kamis, 11 Februari 2010 | 03:23 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Peternak sapi perah di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mengeluhkan kenaikan harga pakan konvensional, sementara pakan alternatif, seperti ongok atau ampas tahu dan ketela, juga naik.

Tingginya biaya produksi tersebut tidak sebanding dengan harga beli susu oleh koperasi yang anjlok sejak akhir Januari.

Danuri (54), peternak susu di Cisarua, Lembang, Rabu (10/2), mengatakan, harga konsentrat sejak awal Desember naik dari Rp 1.000 menjadi Rp 1.300- Rp 2.000 per kilogram. Sementara harga pakan rumput yang semula Rp 300-Rp 500 menjadi Rp 600-Rp 800 per kilogram.

”Biaya pakan semakin mahal. Mau pakai pakan alternatif juga susah mendapatnya. Kalaupun ada, harganya tinggi,” ujar Danuri.

Awaludin (58), peternak sapi perah di Desa Pasirhalang, Cisarua, Bandung Barat, menuturkan, harga pakan alternatif, seperti ongok atau ampas ketela dan tahu, mencapai Rp 18.000 per karung setara dengan 25 kg. Dua bulan lalu harga ongok masih Rp 9.000 per karung. Tingginya harga ongok sangat membebani peternak.

”Pakan ongok delapan ekor sapi menghabiskan 70 karung ampas tahu untuk 15 hari. Ampas tahu yang sebagian besar disuplai dari Cibuntu digunakan sebagai makanan tambahan selain rumput,” ujarnya.

Tingginya harga pakan ternak konsentrat diakui Ketua Pengawas Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU), Jawa Barat, Jajang Sumarna. Menurut dia, belum turunnya harga konsentrat karena masih tingginya harga sembilan bahan baku pembuatannya, misalnya dedak yang harganya mencapai Rp 1.700 per kg. Pada musim hujan, dedak juga sulit didapat. ”Kalau ada, juga harus bersaing dengan peternak ayam,” ujarnya.

Harga pakan yang tinggi tersebut sangat membebani para peternak sapi perah. Awaludin mengungkapkan, biaya pemeliharaan empat sapi miliknya Rp 132.500 per hari. Untuk itu, jika ingin impas, harga beli susu dari koperasi seharusnya Rp 3.600 per liter. Namun, harga beli susu dari koperasi saat ini maksimal hanya Rp 3.100 per liter.

Harga susu turun

Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Barat Dedi Setiadi membenarkan kesulitan peternak tersebut. Meski demikian, pihak koperasi tidak bisa berbuat banyak karena harga beli ke peternak juga tergantung dari harga jual susu ke industri pengolahan susu (IPS).

Dedi mengaku, pihaknya bukannya belum pernah memperjuangkan kenaikan harga susu. Awal Januari, GKSI telah mengajukan kenaikan harga susu sebesar 10 persen kepada pihak IPS.

”Namun, saat itu harga susu dunia justru turun dari 3.600 dollar AS per metrik ton menjadi 2.800 dollar AS per metrik ton. Akibatnya, harga pembelian susu ke peternak juga harus turun,” ujarnya.

Saat ini pihak koperasi membeli susu sapi segar dari peternak dengan harga berkisar Rp 2.800- Rp 3.400 per liter, tergantung dari kualitas. Adapun pada akhir tahun lalu harga pembelian susu bisa mencapai Rp 3.600 per liter. (GRE)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/11/03230944/harga.pakan.naik.tak.sebanding..harga.susu.
Read more ...

Pemkot Harus Perhatikan Kenaikan Bako

Thursday, 11 February 2010 11:14

MANADO—Kenaikan bahan pokok makin meresahkan. Warga Manado mengeluhkan harga beras yang naik menjadi Rp8.000. “Sebelumnya Cuma Rp6.000 sampai Rp7.000 tapi sekarang sudah naik Rp8.000,” kata Syane, warga Mahakeret.
Yang meresahkan, harga gusir pun sejak kenaikan pada Desember lalu, tidak ada penurunan. “Sekarang harga gula sudah naik hingga Rp10.500, dan belum turun sejak Desember,” tambah Ina.
Ini langsung ditanggapi Wakil Ketua Komisi D DPRD Manado, H Amir Liputo. “Pemerintah harus memperhatikan harga bahan pokok. Di sini perlu ada peran pemerintah untuk menjaga agar harga bahan pokok tidak melambung,” kata Liputo, kemarin.
Komisi D yang membidangi kesejahteraan ini, kata Liputo, sudah menerima banyak keluhan dan aspirasi masyarakat. “Kenaikan ini tentu sangat memberatkan warga apalagi mereka yang penghasilannya pas-pasan. Jadi tolong pemerintah memperhatikan hal ini,” tandas Liputo. (gyp)

http://www.mdopost.com/
Read more ...

Jatah Raskin di Solok Selatan Turun Menjadi 13 Kg

Kamis, 11/02/2010 00:43 WIB

Nengsih Adeyaka - Padang Ekspres

Jumlah penerima bantuan beras bagi keluarga miskin di Kabupaten Solok Selatan tahun 2010 berkurang dari tahun sebelumnya. Ini disebabkan turunnya jumlah Rumah Tangga Sasaran (RTS) bila ditinjau dari indikator keluarga yang dinyatakan berhak mendapat raskin. Jatah raskin juga berkurang hingga 13 kg per RTS.

"Kriteria RTS yang mendapatkan raskin, antara lain dilihat dari pendidikan, pekerjaan, serta minimal penghasilan. Ada RTS yang mana anaknya sudah bekerja. Jadi tidak masuk lagi sebagai penerima raskin," terang staf bagian Kesra sekretariat daerah Solsel, Fernando Ardiansyaf, saat ditemui di ruang kerjanya.

Catatan bagian Kesra, tahun ini penerima raskin sebanyak 9.699 RTS/RTM. Jumlah tersebut mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2009, yakni 9.923 RTS. Meski secara keseluruhan RTS di Solsel berkurang. Namun, angka tersebut tidak terjadi secara merata di masing-masing kecamatan. Ada tiga kecamatan, jumlah RTS-nya malah mengalami kenaikan.

Tiga kecamatan tersebut yaitu Pauhduo, Koto Parik Gadang Diateh (KPGD) dan Sangirbatanghari. Pada tahun 2009, penerima raskin di Pauhduo hanya 1.394 RTS. Tahun ini naik menjadi 1.571 RTS. KPGD, dulunya 1.569 RTS, bertambah menjadi 1.599 RTS. Sangirbatanghari tahun sebelumnya terdapat 1.032 RTS, tahun ini meningkat 1.228 RTS.

Sedangkan empat kecamatan lainnya jumlah penerima raskin (RTS) berkurang. Sangir berkurang sebanyak 158 RTS, Sangirjujuan sebanyak 299 RTS, Sangirbalaijanggo 101 RTS, Sungaipagu 69 RTS.

Penyaluran raskin untuk Januari 2010, kata Fernando, akan direalisasikan pada akhir Februari. Keterlambatan tersebut disebabkan karena molornya jadwal pembayaran daerah kepada Bulog.

Sementara itu, jatah raskin yang diterima warga setiap bulannya turun dibandingkan tahun 2009. Biasanya masyarakat yang tercatat sebagai RTS, mendapat jatah 15 kg per bulan. Sekarang, mereka hanya diberi Rp13 kg per bulan. [*]

http://www.padang-today.com/?today=news&id=13545
Read more ...

Monday, 8 February 2010

Harga Beras Diperkirakan Terus Naik Hingga Maret

Senin, 08 February 2010, 10:27 WIB

YOGYAKARTA -- Harga beras di bebrapa pasar tradisional di Yogyakarta terus mengalami kenaikan sejak pertengahan Januari 2010 lalu. Bahkan berdasarkan pemantauan Dinas Perinsdustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Yogyakarta, harga beras saat ini telah tembus Rp 7.500/kg. Padahal seminggu sebelumnya harga beras jenis tersebut masih berkisar antara Rp 6.900 hingga Rp 7.200/kg.

"Itu untuk jenis beras premium seperti mentik super sedangkan jenis medium seperti IR rata-rata Rp 6.500/kg, sebelumnya hanya sekitR Rp 6.000-Rp 6.100/kg," terang Prabaningtyas, Kasie Bimbingan Usaha Perdagangan Disperindagkoptan Kota Yogyakarta saat ditemui, Senin (8/2).

Pantauan harga beras itupun dilakukan timnya setiap minggu di lima pasar tradisional yang cukup beras di Yogyakarta, yaitu di Pasar Beringharjo, Pasar Kotagede, Pasar Lempuyangan, Kranggan dan Prawirotaman.

Menurutnya, harga beras itupun akan terus mengalami kenaikan hingga Maret 2010 mendatang. Pasalnya, panen raya petani di DIY baru akan terjadi pada Maret 2010 mendatang. "Saat ini udah ada yang panen tetapi hanya satu dua saja, sehingga harga beras masih cukup tinggi. Panen serentak kemungkinan baru Maret mendatang," tegasnya.

Diakui Prabaningtyas, pihaknya telah bekerjasama dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) DIY untuk melakukan operasi pasar (OP) dalam rangka membantu masyarakat terhadap perolehan beras murah. OP itupun telah dilakukan sejak akhir Januari 2010 di empat pasar besar di Yogyakarta yaitu di Beringharjo, Lempuyangan, Kranggan dan Kotagede.

OP itupun kemudian dilanjutkan di 14 kecamatan di Yogyakarta sejak 3 Januari 2010 lalu. OP pertama dilakukan tiga kecamatan yaitu di Pakualaman, Danurejan dan Wirobrajan. Selanjutnya 9 kecamatan lain akan dilakukan OP secara bergantian hingga tangagl 17 Januari 2010 mendatang.

Masing-masing kecamatan akan digrop beras dari Bulog sekitar 2 hingga 2,8 ton saat Op tersebut berlangsung dengan harga Rp 5.600/kg. "Jika ternyata beras tersebut kualitasnya agak jelek pasti dikembalikan dan ditukar oleh Bulog karena stok yang banyak sehingga kualitas beras berbeda-beda," tambahnya.

Selain di 14 kecamatan, OP juga akan dilakukan melalui para pengecer di pasar-pasar tradisional di Yogyakarta. Tahap pertama Bulog akan menyuplai beras kualitas medium ke pengecer di Pasar Beringharjo dan Lempuyangan. Pengecer tersebut membeli beras Bulog dengan harga Rp 5.310/kg. Beras itupun dijual pengecer ke konsumen seharga Rp 5.630/kg.

"Itu harga eceran tertinggi (HET) dari Bulog, penjualan tidak boleh melebihi HET tersebut. Kita akan melakukan pemantauan agar penjualan tidak melebihi HET. OP melalui pengecer juga akan kita lanjutkan ke Pasar Kranggan dan Demangan," tegasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perekonomian dan Sumber Daya Alam Propinsi DIY RM Astungkoro mengatakan, OP beras akan terus dilakukan. Pasalnya kata dia, Menteri Perdagangan telah mengeluarkan surat edaran yang memerintahkan OP terus dilakukan.

Red: ririn
Reporter: Yulianingsih

http://www.republika.co.id/berita/103445/harga-beras-diperkirakan-terus-naik-hingga-maret
Read more ...

Friday, 5 February 2010

IRT Mengeluh, Cabe Merah Tak Stabil

Kamis, 04/02/2010 08:00 WIB

Eri Mardinal - Padang Ekspres

Ibu-ibu rumah tangga (IRT) kembali dipusingkan dengan melonjaknya harga cabe merah di pasaran. Jika biasanya mereka membeli dengan harga Rp26 ribu per kilogram, kini harganya melonjak drastis menjadi Rp30 ribu perlikogram.

“Baru saja minggu kemarin harganya turun, sekarang harganya sudah naik lagi. Minggu lalu cabe masih bisa saya beli Rp25 per kilogram, sekarang sudah naik Rp30 ribu per kilogram. Belum lagi harga kebutuhan lainnya. Kondisi seperti ini sangat membuat para IRT merasa terbebani,” keluh Ida (40) seorang IRT di Simpangempat.

Kenaikan harga cabe merah ini, kata Ida karena menurut para pedagang barang yang dibelinya dari agen juga tinggi, makanya mereka terpaksa pula menaikkan harga jual. Akibatnya masyarakatlah yang merasakan pedihnya harga kebutuhan dapur ini.

Dia menambahkan kalau setiap berbelanja dirinya biasa membeli 1 kilogram cabe merah, namun karena harganya naik, terpaksa harus mengurangi dengan hanya membeli setengah kilogram saja. Ini dilakukan agar kebutuhan pokok lainnya dapat terpenuhi.

Keluhan yang sama juga diutarakan, Umi (38) warga lainnya. Dia cukup terkejut dengan kenaikan harga cabe merah yang begitu drastis. Padahal pada minggu lalu, katanya harga cabe merah masih di kisaran Rp24 ribu perkilogram. Kini malah harganya telah menembus Rp30 ribu per kilogram.

“Bagaimana kita tidak pusing memikirkannya tiba-tiba saja harga melonjak naik. Ini baru satu barang, kalau seandainya barang-barang kebutuhan pokok lainnya juga ikutan naik, bisa stres kita dibuatnya,” keluhnya sembari berharap semoga dalam minggu ini, harga cabe merah bisa kembali normal lagi.

Di tempat terpisah, beberapa pedagang yang ditemui Koran ini, salah seorangnya Inur mengungkapkan terpaksa menaikkan harga cabe merah karena barang yang didapatkannya tersebut juga naik dengan harga tinggi dibanding minggu lalu.

“Sehingga, para pedagang mau tidak mau harus menaikan harga jual. Kalau dijual sama dengan harga minggu lalu, maka pedagang bisa rugi,” ungkapnya.

Dia menambahkan, naiknya harga jual cabe merah ini lebih disebabkan karena persedian stok cabe merah di tingkat agen juga menepis. Pengaruh cuaca yang tidak menentu, sedikitnya mengakibatkan petani mengalami kegagalan panen. Sehingga pasokan cabe merah ke tingkat pengecer atau pedagang berkurang.

Sementara itu, harga komoditas lainnya seperti beras kualitas I masih di harga rata-rata Rp8250 per Kg, minyak goreng curah Rp10 ribu per Kg, gula Rp12 ribu per Kg, bawang merah Rp10 ribu per Kg. Sedangkan harga daging sapi masih Rp70 ribu per Kg, dan daging ayam Rp15 ribu per kilogram. [*]

http://www.padang-today.com/?today=news&id=13352
Read more ...

Bulog Diminta Jaga Kualitas Raskin

Sabtu, 6 Februari 2010

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Komisi II DPRD Provinsi Lampung meminta Badan Urusan Logistik (Bulog) Divre Lampung menjaga kualitas beras untuk keluarga miskin (raskin) yang akan dibagikan kepada masyarakat.

Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung Ahmad Junaidi Auli mengungkapkan beras merupakan kebutuhan pokok utama sebagian besar masyarakat Indonesia. Jadi tidak benar kalau masyarakat miskin hanya mendapatkan beras dengan kualitas buruk.

"Banyak masyarakat miskin yang mengeluhkan kualitas raskin. Ada yang kutuan, pecah, atau berbau tidak sedap. Jadi kami minta Bulog berupaya menjaga kualitas berasnya," kata Junaidi saat hearing dengan Bulog Lampung, Jumat (5-2).

Hal senada juga disampaikan anggota Komisi II lainnya, Nurzaini. Menurut dia, walaupun raskin ini dibeli dengan harga yang murah, Bulog jangan sampai terkesan asal-asalan dalam pemilihan kualitasnya. "Kami sudah sering turun ke lapangan. Masyarakat miskin mengeluhkan kualitas beras yang seperti batik itu. Ada hitam-hitamnya dan setelah dimasak malah buyar. Kami juga tahu kalau kualitas raskin tidak mungkin disejajarkan dengan beras super. Tapi setidaknya, ya jangan terlalu jelek," kata wakil dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.

Menanggapi hal ini, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bulog Lampung Novi Indiarto mengakui kualitas raskin tidak bisa disamakan dengan kualitas beras yang dipasarkan secara umum. Jenis gabahnya pun, menurut dia, berbeda. Sebab raskin memiliki kadar air 14%. Dengan kadar air seperti ini, menurut Novi, beras dapat bertahan hingga maksimal 6 bulan sehingga saat akan didstribusikan kepada masyarakat beras tersebut masih layak dikonsummi. "Ya memang jelas kualitasnya lebih rendah. Kalau beras yang dijual untuk umum kan kadar airnya lebih tinggi. Beras seperti ini biasanya hanya mampu bertahan hingga dua minggu. Sedangkan raskin tentu harus lebih lama bertahan. Tapi kami juga menjamin raskin yang dapat dibeli masyarakat tidak mampu dengan harga murah ini masih layak konsumsi," ujarnya.

Menurut Novi, untuk mempertahankan kualitas raskin, Bulog juga telah melakukan beberapa perawatan pada raskin di Gudang Bulog, seperti spraying, fumigasi, fogging, dan lainnya. "Perawatan ini dilakukan untuk menghindarkan raskin dari serangan hama, seperti kutu, bakteri, dan lain sebagainya," kata Novi. Dengan perawatan seperti ini, kata Novi, kerusakan beras dapat diminimalisasi, tapi tentu saja tidak dapat disamakan dengan kualitas beras yang dijual di pasaran. MG3/E-1

http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010020604360057
Read more ...

Wednesday, 3 February 2010

Harga Sembako Melonjak Tajam

Kamis, 4 Februari 2010 | 08:02 WITA

Beras dan Gula Impor Paling Tinggi

Watampone, Tribun - Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok dalam sepekan terakhir, melonjak tajam di Kabupaten Bone. Dua bahan kebutuhan rumah tangga seperti beras dan gula impor merupakan dua item yang kenaikannya cukup drastis.

Pantauan Tribun di Pasar Sentral Palakka, Rabu (3/2), kenaikan hampir terjadi di seluruh bahan pokok.
Beras misalnya, dari awalnya dijual Rp 3.800 per kilogram kini dijual seharga Rp 5.000. Begitu juga dengan gula impor yang mengalami kenaikan cukup drastis dari Rp 9.000 per kg menjadi Rp 14 ribu.
"Gula impor pada bulan puasa lalu cuma Rp 9.000, terus naik Rp 10 ribu menjelang lebaran. Sesudah Lebaran naik lagi jadi Rp 11 ribu. Awal tahun naik Rp 12 ribu, sekarang Rp 14 ribu," kata Sri, salah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Jl Sungai Citarum, Kota Watampone.
Tidak hanya gula dan beras, sayur-sayuran dan ikan juga mengalami kenaikan, meskipun tidak terlalu tinggi. Begitu juga dengan bahan bumbu seperti bawang merah, bawang putih, dan cabe. Untuk bawang merah, harga tidak terlalu tinggi bahkan ada juga sebagian pedagang menurunkan harganya.
"Sekarang kan bawang merah stoknya banyak karena musim panen. Tapi turunnya tidak terlalu banyak. Tapi kalau lagi permintaan banyak, biasanya naik lagi," kata Hasna, pedagang di Sentral Baru Palakka.
Harga sayur kol, juga mengalami penurunan.
Namun untuk harga ikan, yang empat ekornya ukuran lima jari biasa dibeli dengan harga Rp 20 ribu, kini pembeli harus menambah karena kini dijual Rp 25 ribu.
Ikan yang biasanya dijual dengan harga Rp 10 ribu, kini dijual dengan harga Rp 15 ribu. Kenaikan harga ikan disebabkan masih kurangnya nelayan yang melaut. (ans)

http://www.tribun-timur.com/read/artikel/75335
Read more ...