IKLAN BULAN INI

Showing posts with label Animal. Show all posts
Showing posts with label Animal. Show all posts

Sunday, 28 February 2010

Susu Unta Lebih Bergizi Dibandingkan Susu Sapi

Jumat, 26 Pebruari 2010 09:55 WIB

Jakarta (ANTARA News) - Susu unta lebih bergizi dibandingkan dengan susu sapi karena susu itu lebih rendah lemak dan kolesterol, namun lebih kaya potassium, zat besi dan mineral seperti sodium dan magnesium.

Kesimpulan adalah isi dokumen Konferensi Kelima Keselamatan Makanan Internasional di Dubai, yang diselenggarakan 22-25 Februari di Dubai International Convention and Exhibition Center.

Dokumen itu menyebutkan, "Unta adalah bagian penting dalam tradisi dan kebudayaan Arab dan susunya adalah komponen makanan penting di Emirat dan negara lain Arab."

Dokumen berjudul "Standrds for Camel Milk" ini diajukan oleh Fatima AbdulRahman, pemimpin Ahli Mikrobiologi Makanan di Laboratorium Pusat Dubai di Kotapraja Dubai, Uni Emirat Arab (UAE).

"Sekarang, susu unta sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia di banyak negara lain," kata Fatima dalam dokumen itu.

"Terdapat 18 juta unta di dunia yang mendukung kelangsungan hidup manusia di daerah setengah tandus," demikian antara lain isi dokumen itu sebagaimana dikutip Kantor Berita Uni Emirat Arab, WAM.

Fatima mengatakan rasa susu unta biasanya manis dan tajam, tapi kadangkala terasa asin dan pada saat lain terasa berair.

"Kualitas susu dipengaruhi oleh jumlah anak unta, usia hewan tersebut, kadar hewan itu menyusui anak, kualitas dan jumlah makanan, serta jumlah air yang tersedia," kata Fatima.

Ketika berbicara mengenai manfaat susu unta, Fatima mengatakan susu unta adalah sumber protein yang berlimpah dengan kegiatan perlindungan dan potensi antimikroba.

"Sebagian protein itu tak ditemukan pada susu sapi, kalaupun ditemukan hanya sedikit. Susu unta tak perlu dimasak sampai mendidih seperti susu sapi atau kambing. Susu unta, yang kaya akan rasa, harus diminum secara perlahan untuk memungkinkan perut mencernanya," kata Fatima.

Ia mengatakan beberapa studi telah dilakukan sehubungan dengan komposisi susu unta.

"Semua studi tersebut menunjukkan bahwa kandungan lemak per unit susu unta adalah 1,8 persen-3,8 persen. Vitamin C dan Niacin jauh lebih tinggi pada susu unta. Kandungan vitamin dan protein berbeda pada susu unta. Namun jumlah laktosa pada susu unta sama dengan laktosa pada susu sapi," papar Fatima.

Dia melanjutkan, "Susu unta berisi lebih sedikit vitamin A, B2, folic acid dan panthonthenic acid dibandingkan dengan pada susu sapi, yang dapat dipandang tak menguntungkan pada susunan susu unta."

Mengenai meminum susu unta mentah-mentah, ia mengatakan susu unta yang tak dimasak dapat menciptakan "brucellosis".

"Bakteri `brucellosis` menular ke manusia melalui produk susu yang tak diolah. Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi dan pencemaran lingkungan melalui darah hewan itu dan jaringan yang terinfeksi juga dapat mengakibatkan `brucellosis`," katanya.

Susu unta juga memiliki berumur lebih lama dibandingkan jenis susu lain karena adanya beberapa susunan khusus dan kuat.

"Temuan ini memiliki kepentingan besar bagi manusia yang hidup di daerah gurun, tempat instlasi pendingin tak tersedia. Nilai Lactoferrin dan immunoglobulin diperkirakan agak lebih tinggi pada susu unta dibandingkan dengan yang dilaporkan pada susu sapi," kata Fatima.

Spesifikasi bagi susu unta itu disiapkan oleh Kotapraja Dubai setelah bekerjasama dengan Emirates Standards and Metrological Authority (ESMA), Emirates Industry for Camel Milk & Products dan Central Veterinary Research Laboratory di Dubai.

"Pentingnya spesifikasi ini menjadi pengejawantahan dari perawatan yang diberikan oleh negara dan disajikan oleh para tetuanya, bagi unta yang menjadi warisan kebudayaan negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC)," kata Fatima.

Dia mengatakan, produk susu unta berbeda dari yang lain karena banyak ciri khas luar biasa yang menjadikannya produk yang kaya dan kemudian dikembangkan melalui penelitian ilmiah secara luas.

"Spesifikasi ini dipandang unik oleh negara ini (UEA) sehingga perlu dilindung melalui jejak kebudayaan. Negara ini memiliki instalasi pengolahan susu unta di Dubai dan al Ain," kata Fatima.

UAE telah melaksanakan tugas mempersiapkan spesifikasi bagi susu unta melalui ESMA dan badan lain yang mengkhususkan diri dalam menyetujui spesifikasi internasional.

"Pertemuan regional Codex Middle East memberi persetujuan mengenai spesifikasi susu unta ini," demikian Fatiman. (*)

WAM/C003/AR09

http://www.antaranews.com/berita/1267152915/susu-unta-lebih-bergizi-dibandingkan-susu-sapi
Read more ...

Hayo..Seafood Harus Ramah Lingkungan Lho..

Ahad, 28 Februari 2010, 14:59 WIB

JAKARTA--LSM WWF Singapura meluncurkan panduan makanan laut (seafood) yang ramah lingkungan untuk membantu menyelamatkan Segitiga Karang Dunia (Coral Reef Triangle).
Panduan Seafood Singapura buatan WWF itu membantu menambah informasi bagi penikmat makanan laut dan perusahaan seafood serta memberi pilihan konsumsi seafood yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

"Ekosistem laut yang rentan dari Segitiga Karang Dunia sedang dalam tekanan dari meningkatnya penangkapan ikan yang lebih cepat dibandingkan yang tersedia," kata Program Coral Triangle WWF, Geoffrey Muldoon dalam siaran pers WWF yang diterima ANTARA di Jakarta, Minggu.

Dengan rata-rata 100.000 ton konsumsi seafood setiap tahun, Singapura menjadi salah satu pengkonsumsi seafood terbesar di Asia Pasifik. Singapura juga menjadi pusat perdagangan seafood dan hampir semua ikan impor yang diperdagangkan tersebut berasal dari Coral Triangle -- kawasan laut paling tinggi tingkat keanekaragaman hayatinya.

"Di masa lampau, hampir semua orang tidak peduli dari mana ikan yang tersaji di piringnya berasal atau ikan yang mereka makan telah 'overfishing' atau ditangkap dengan cara yang merusak ekosistem laut," kata Direktur Pelaksana WWF Singapura, Amy Ho. Amy mengatakan hampir semua seafood yang terlihat di Singapura berasal dari kawasan yang telah mengalami "overfishing" selama bertahun-tahun.

Dalam sebuah jajak pendapat di Singapura yang dilakukan WWF, 80 persen responden mengatakan ingin berhenti atau mengurangi memakan seafood jika mereka diberitahu bahwa seafood tersebut ditangkap secara tidak ramah lingkungan. Panduan Seafood WWF dengan ukuran kantong yang mudah dibawa ketika berbelanja atau makan di restoran seafood, menyajikan pilihan ikan yang ditangkap atau dipanen secara bertanggung jawab.

Panduan tersebut menerangkan jenis ikan seperti lampu hijau untuk seafood yang direkomendasikan untuk dimakan, kuning untuk seafood yang sesekali bisa dimakan dan merah untuk seafood yang perlu dihindari. Panduan Seafood Singapura menjadi salah satu elemen luas dan lebar yang menjangkau konservasi laut dari jaringan WWF untuk mempromosikan seafood berkelanjutan yang bekerja menyeluruh dari perubahan kebiasaan dari laut ke piring makanan.

Di Singapura, WWF tidak hanya bekerja bersama dengan konsumen tetapi juga dengan ritel, hotel, restoran, dan pedagang untuk meningkatkan kepedulian terhadap keberlanjutan dan perikanan laut yang bertanggung jawab. "Di masa mendatang, kami menunggu kerjasama untuk kampanye Seafood Singapura untuk meningkatkan kepedulian yang lebih besar dari para pengunjung mengenai pentingnya menjadi ramah lingkungan dengan pilihan makanan yang tepat," kata Manajer Fairmont Singapura, Ian Wilson.

Ian menambahkan pihaknya segera memulai program panduan Seafood WWF dalam daftar menu mereka. Panduan Seafood Singapura dapat diunduh gratis di laman WWF Singapura dan akan didistribusikan gratis di beberapa tempat di Singapura.

Red: krisman
Sumber Berita: ant

http://www.republika.co.id/berita/105169/hayoseafood-harus-ramah-lingkungan-lho
Read more ...

Wednesday, 10 February 2010

Harga Pakan Naik, Tak Sebanding Harga Susu

Kamis, 11 Februari 2010 | 03:23 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Peternak sapi perah di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mengeluhkan kenaikan harga pakan konvensional, sementara pakan alternatif, seperti ongok atau ampas tahu dan ketela, juga naik.

Tingginya biaya produksi tersebut tidak sebanding dengan harga beli susu oleh koperasi yang anjlok sejak akhir Januari.

Danuri (54), peternak susu di Cisarua, Lembang, Rabu (10/2), mengatakan, harga konsentrat sejak awal Desember naik dari Rp 1.000 menjadi Rp 1.300- Rp 2.000 per kilogram. Sementara harga pakan rumput yang semula Rp 300-Rp 500 menjadi Rp 600-Rp 800 per kilogram.

”Biaya pakan semakin mahal. Mau pakai pakan alternatif juga susah mendapatnya. Kalaupun ada, harganya tinggi,” ujar Danuri.

Awaludin (58), peternak sapi perah di Desa Pasirhalang, Cisarua, Bandung Barat, menuturkan, harga pakan alternatif, seperti ongok atau ampas ketela dan tahu, mencapai Rp 18.000 per karung setara dengan 25 kg. Dua bulan lalu harga ongok masih Rp 9.000 per karung. Tingginya harga ongok sangat membebani peternak.

”Pakan ongok delapan ekor sapi menghabiskan 70 karung ampas tahu untuk 15 hari. Ampas tahu yang sebagian besar disuplai dari Cibuntu digunakan sebagai makanan tambahan selain rumput,” ujarnya.

Tingginya harga pakan ternak konsentrat diakui Ketua Pengawas Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU), Jawa Barat, Jajang Sumarna. Menurut dia, belum turunnya harga konsentrat karena masih tingginya harga sembilan bahan baku pembuatannya, misalnya dedak yang harganya mencapai Rp 1.700 per kg. Pada musim hujan, dedak juga sulit didapat. ”Kalau ada, juga harus bersaing dengan peternak ayam,” ujarnya.

Harga pakan yang tinggi tersebut sangat membebani para peternak sapi perah. Awaludin mengungkapkan, biaya pemeliharaan empat sapi miliknya Rp 132.500 per hari. Untuk itu, jika ingin impas, harga beli susu dari koperasi seharusnya Rp 3.600 per liter. Namun, harga beli susu dari koperasi saat ini maksimal hanya Rp 3.100 per liter.

Harga susu turun

Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Barat Dedi Setiadi membenarkan kesulitan peternak tersebut. Meski demikian, pihak koperasi tidak bisa berbuat banyak karena harga beli ke peternak juga tergantung dari harga jual susu ke industri pengolahan susu (IPS).

Dedi mengaku, pihaknya bukannya belum pernah memperjuangkan kenaikan harga susu. Awal Januari, GKSI telah mengajukan kenaikan harga susu sebesar 10 persen kepada pihak IPS.

”Namun, saat itu harga susu dunia justru turun dari 3.600 dollar AS per metrik ton menjadi 2.800 dollar AS per metrik ton. Akibatnya, harga pembelian susu ke peternak juga harus turun,” ujarnya.

Saat ini pihak koperasi membeli susu sapi segar dari peternak dengan harga berkisar Rp 2.800- Rp 3.400 per liter, tergantung dari kualitas. Adapun pada akhir tahun lalu harga pembelian susu bisa mencapai Rp 3.600 per liter. (GRE)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/11/03230944/harga.pakan.naik.tak.sebanding..harga.susu.
Read more ...

Friday, 5 February 2010

30 Provinsi belum Bebas Flu Burung

Sabtu, 06 Februari 2010 08:12 WIB

SUKABUMI--MI: Sebanyak 30 provinsi di Indonesia masih belum terbebas dari penyebaran penyakit flu burung, yang berdampak pada larangan ekspor unggas ke luar negeri secara menyeluruh, kata Menteri Pertanian (Mentan) RI Suswono.

Seusai mencanangkan gerakan nasional Peternak Sehat dan Ternak Sehat di Desa Tenjolaya, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (5/2), Suswono menegaskan, kini pemerintah memprioritaskan penanganan kasus flu burung, sehingga pada tahun berikutnya, ada sejumlah provinsi lainnya yang terbebas dari penyakit tersebut.

Menurut dia, penanganan kasus flu burung tetap dilakukan oleh Komnas flu burung dan didalamnya termasuk Menteri Pertanian. Keberadaan Komnas Flu Burung sendiri dalam waktu dekat ini akan segera diganti dengan kelembagaan yang baru.

Data dari Kementerian Pertanian menyebutkan baru ada tiga provinsi yang bebas flu burung, yakni Maluku Utara, Gorontalo, dan baru-baru ini Kalimantan Barat.

Mentan mengatakan, jika masalah flu burung bisa diatasi, maka Indonesia bisa memanfaatkan peluang ekspor ke luar negeri yang luar biasa, tetapi potensi sektor perunggasan di Indonesia yang sudah terealisasi baru mencapai 60 persen.

"Salah satu penyebabnya adalah flu burung. Gerakan pencanangan peternakan sehat ini merupakan upaya pemerintah untuk mengatasi penyebaran flu burung," tutur Suswono.

Pemeliharaan unggas nantinya tidak terbuka atau dilepas karena tidak akan menguntungkan dan sangat rentan terhadap penyebaran penyakit dan sulit untuk mengendalikannya.

Di tempat yang sama, Bupati Sukabumi, Sukmawijaya, mendukung upaya penanganan flu burung yang dilakukan pemerintah pusat, antara lain, dengan melakukan kegiatan pengetatan atau 'bio security', pemusnahan unggas positif flu burung, vaksinasi ternak unggas yang sehat.

Ia menjelaskan, pada awal tahun 2010 ini, di Kabupaten Sukabumi, telah terjadi satu kasus kematian massal unggas sebanyak 569 ekor. "Kasus tersebut saat ini tengah ditangani oleh Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Sukabumi, sehingga permasalahan flu burung segera diatasi," ujarnya. (Ant/OL-03)

http://www.mediaindonesia.com/read/2010/02/06/121541/71/14/30-Provinsi-belum-Bebas-Flu-Burung
Read more ...

Wednesday, 3 February 2010

Kerusakan Hutan Akibatkan Gajah Masuk Kompleks Chevron

Rabu, 3 Pebruari 2010 13:19 WIB

Pekanbaru (ANTARA News) - Kawanan gajah liar yang memasuki kompleks PT Chevron Pasific Indonesia (CPI) di Kecamatan Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau, adalah akibat satwa dilindungi tersebut kesulitan mencari makan di hutan habitatnya yang rusak parah .

"Gajah yang masuk kompleks perusahaan berasal dari Kawasan Suaka Margasatwa Balai Raja. Namun, karena habitat mereka di Balai Raja telah rusak parah, maka gajah kini sulit mendapatkan makanan dan terpaksa masuk di areal perusahaan," kata Humas WWF Riau Syamsidar kepada ANTARA di Pekanbaru, Rabu.

Syamsidar mengatakan hal itu terkait masuknya puluhan gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di kompleks CPI Duri sejak 24 Januari.

Syamsidar mengatakan, kondisi hutan di Balai Raja yang merupakan habitat gajah kini tinggal bersisa sekitar 120 hektare. atau kurang dari 10 persen, dari luas sebelumnya yang mencapai 18 ribu hektare saat ditetapkan Menteri Kehutanan pada 1986.

Kondisi habitat tempat mencari makan satwa bongsor itu juga makin sempit karena hutan yang tersisa merupakan rawa-rawa dan sering meluap saat musim hujan.

"Kompleks Chevron sebenarnya bukan lintasan gajah, tapi sekarang sepertinya menjadi jalur lintasan alternatif karena habitat mereka makin sempit akibat beralih fungsi menjadi kebun sawit dan perumahan warga," katanya.

Berdasarkan catatan ANTARA, kawanan gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) sebelumnya pernah berkeliaran di dalam kompleks CPI Duri akibat meningkatnya konflik dengan manusia sejak tahun 2006.

Ia menambahkan, WWF kini bekerja sama dengan CPI berupa melakukan pembekalan pada sekuriti perusahaan agar tidak terjadi konflik antara gajah dengan manusia di dalam areal perusahaan.

"Kami hanya melakukan pembekalan kepada sekuriti karena penghalauan gajah semestinya dilakukan BKSDA Riau," katanya.
(F012/B010)

http://www.antaranews.com/berita/1265177954/kerusakan-hutan-akibatkan-gajah-masuk-kompleks-chevron
Read more ...