IKLAN BULAN INI

Showing posts with label Children. Show all posts
Showing posts with label Children. Show all posts

Sunday, 19 September 2010

Mainan Anak Harus Cantumkan Infromasi Bahaya Yang Ada

Minggu, 19 September 2010 - 11:07 WIB

JAKARTA (Pos Kota) – Direktorat Pengawasan Barang Beredar dan Jasa (B2J) Kementerian Perdagangan (Kemendag) meminta produsen dan importir mainan anak-anak agar mencantumkan informasi seputar bahaya pemakaian terhadap barang dagangannya.

“Saya akan mengeluarkan surat pemberitahuan ke asosasi dan importir dalam waktu dekat ini,” terang Inayat Iman, Direktur Pengawasan B2J Kemendag, Minggu (19/9).

Bahkan, pihaknya juga minta pedagang untuk menjelaskan informasi kepada konsumen tentang pemakaian mainan anak-anak yang berbahaya seperti pistol-pistolan. Ia mengaku produk mainan anak-anak selama ini tidak diatur spesifik, tapi secara umum.

Pengawasan lebih diutamakan apakah produk mainan anak-anak memakai bahan baku berbahaya atau tidak. “Ini yang diawasi. Sementara dampak penggunaan produk mainan tersebut tidak diatur,” katanya.

“Meski demikian saya mengimbau orang tua untuk lebih cermat dan berhati-hati membelikan mainan anak, apakah berbahaya atau tidak,” ucapnya. (setiawan/B)

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/09/19/mainan-anak-harus-cantumkan-infromasi-bahaya-yang-ada
Read more ...

Wednesday, 15 September 2010

148 anak alami gangguan mata

Wednesday, 15 September 2010 16:08

MEDAN - Kesehatan merupakan jamin kehidupan seseorang. Namun kondisi kesehatan di Sumut sangat memprihatinkan. Seperti halnya kesehatan mata anak, mengalami permasalahan.

"Sebanyak seribu anak, seratus empat puluh delapan diantaranya mengalami gangguan mata," kata ketua Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (Persi) Sumatera Utara, Sjahrial R Anas, sore ini.

Disebutkan, berdasarkan hasil penelitian Persi, jumlah anak yang menderita kerusakan mata diperkirakan terus meningkat. Kerusakan mata yang diderita anak juga berpengaruh terhadap kualitas pendidikan mereka.

"Justru kemampuan mereka menangkap pelajaran menjadi berkurang. Sehingga kondisi mereka sangat memprihatinkan. Hal ini menjadi perhatian pemerintah, supaya jaminan kesehatan mata anak tetap terjaga,” ujarnya.

Dalam waktu dekat, menurutnya, Persi akan menggelar Bulan Peduli Mata dengan memberikan bantuan kacamata kepada anak-anak SD. Persi membutuhkan 16.000 kacamata dan berharap dukungan dari donator untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial ini.

Editor : SASTROY BANGUN
(dat01/wol-mdn)

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=143214:148-anak-alami-gangguan-mata&catid=15:sumut&Itemid=28
Read more ...

Tuesday, 1 June 2010

Anak Dipersulit Daftar Sekolah, Adukan Saja ke Posko PSB!

Selasa, 01/06/2010 16:49 WIB

Ken Yunita - detikNews

Jakarta - Dipersulit saat ingin mendaftarkan anak bersekolah? Tak usah pusing-pusing. Adukan saja sekolah tersebut ke Posko Pengaduan Penerimaan Siswa Baru (PSB).

Mendaftarkan anak ke sekolah memang sering kali membuat orang tua murid pening. Masalahnya bisa biaya, administrasi atau yang lainnya. Orang tua tidak memiliki pilihan selain mengikuti aturan sekolah tersebut.

Lebih parah, orang tua tidak tahu harus ke mana saat ingin mengadukan persoalannya. Karena itu, sejumlah LSM yang peduli pada pendidikan sepakat membentuk Posko Pengaduan PSB bagi orang tua murid.

"Tujuannya membantu orang tua murid, terutama mereka yang dihambat dalam proses PSB dan melakukan advokasi guna mengubah kebijakan pendidikan terkait PSB," kata Febri Hendri, Peneliti Senior Indonesia Corruption Watch (ICW) dalam rilis yang diterima detikcom, Selasa (1/6/2010).

Menurut ICW, pelaksanaan PSB selalu diwarnai berbagai masalah. Warga negara dihambat oleh berbagai persyaratan.

Dalam monitoring PSB tahun ajaran 2007/2008, 2008/2009, dan 2009/2010 orang tua calon siswa baru mengeluhkan banyaknya uang yang mesti mereka keluarkan dan ketertutupan sekolah dalam proses penerimaan siswa.

Pada sisi lain, pemerintah yang oleh konstitusi negara diberi kewajiban untuk memudahkan warga negara mengakses pelayanan pendidikan, justru tidak berbuat apa-apa. Atas dasar otonomi sekolah, pemerintah menyerahkan mekanisme PSB kepada sekolah.

Akibatnya, warga negara terutama kelompok miskin yang belum dapat memenuhi persyaratan administasi maupun biaya, tidak mampu memperoleh haknya.

Berikut lokasi Posko Pengaduan PSB:

Jakarta

1. Aliansi Orang Tua Peduli Pendidikan/Indonesia Corruption Watch, Jl.Kalibata Timur IV D No.6 Jakarta selatan (021) 70791221
2. Indonesia Budget Centre, Jl.Zeni V B No.11, Rawajati Jakarta Selatan (021) 7949637
3. Johar Baru - Jakarta Pusat (Andri Vista 021 91111332)

Daerah

1. Education Care (E-Care) Tangerang, Perumahan Citra Raya, Jl. Irama 8 Blok I.16 No.9 Taman Puspita, Kec. Cikupa Kab. Tangerang – Banten (021) 7062 3749
2. Garut Governance Watch (GGW) Jl. Pajajaran Gang Sagaranten No.157, Garut (0262) 237323
3. Yayasan Prima Bau-Bau, Sultra
4. Yayasan Kritik Muna - Sultra
5. KP2KKN Semarang - Jawa Tengah
6. MaTA Aceh. Jl. Peuteh Rumah Rayeuk Tempok Teingoh No. 30
7. KMRT (Koalisi Mahasiswa dan Rakyat Tasikmalaya), Jamal (081383690032)
8. Stimulant Institute Junita W. Radjah (0813394494), Umbu Tamu Kapita (085339534446), Jl. Ikan Mas, Perumnas, Kelurahan Kambajawa, Waingapu, Sumba Timur
9. Sahdar (Sentra Advokasi Hak Untuk Pendidikan Rakyat) Medan, Jl. Mustafa No 30 Medan. Contac: 061-77444610 hp:081370909898.

(ken/nrl)

http://www.detiknews.com/read/2010/06/01/164907/1367708/10/anak-dipersulit-daftar-sekolah-adukan-saja-ke-posko-psb?881103605
Read more ...

Monday, 31 May 2010

Industri Rokok Targetkan Wanita dan Remaja

30/05/2010 09:23

Astrid Puspasari

Liputan6.com, Jenewa: Sungguh mengejutkan! Industri rokok yang jelas-jelas berbahaya bagi kesehatan, kini menargetkan wanita dan remaja di berbagai negara-negara berkembang. Data ini diumumkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini.

Dalam rangka memperingati Hari Dunia Tanpa Tembakau yang jatuh pada 31 Mei besok, WHO mencela taktik pemasaran yang dilakukan perusahaan tembakau. "Sebanyak 40 persen pria merokok dan hanya sembilan persen perempuan yang merokok. Tapi angka itu masih bisa berubah," tegas Douglas Bettcher, Direktur Prakarsa Bebas Tembakau WHO.

Menurut Global Youth Tobacco Survei yang dilakukan WHO, tingkat perokok dikalangan remaja yang berbeda gender telah memudar. "Industri rokok pasti merekrut pengguna baru, sebagai ganti perokok yang telah meninggal atau sakit," seru Bettcher. "Itu sebabnya, mereka menargetkan perempuan demi motif keuntungan."

Walaupun produk-produk rokok telah lama dipasarkan untuk perempuan di negara-negara industri, hal itu tidak bisa disamakan di negara-negara berkembang. "Perilaku pemasaran licik dan agresif, dilakukan industri tembakau di negara-negara berkembang. Ini adalah sebuah fenomena yang relatif baru," jelas Bettcher.

Di Jepang, rokok dibuat cantik dengan kemasan berwarna merah muda. Sementara di Mesir, bungkus rokok berbentuk kemasan parfum, dan di Nigeria dihadiahi barang bermerek. Pantas saja wanita tergiur.(Xinhua/ADO)

http://kesehatan.liputan6.com/berita/201005/279294/Industri.Rokok.Targetkan.Wanita.dan.Remaja
Read more ...

Akibat Rokok, Penyakit Jantung Makin Menyerang Orang Muda

Senin, 31 Mei 2010 | 07:10 WIB

TEMPO Interaktif, Penyakit jantung koroner kini menjangkiti pada usia makin muda. Dr Taufik Pohan, SpJP, pernah menangani penderita jantung koroner berusia 26-29 tahun. "Padahal dulu usia sekitar 40 tahunan baru kena," kata dokter spesialis jantung dari Rumah Sakit Pondok Indah ini.

Dokter spesialis jantung dari RS Jantung Harapan Kita, Jakarta, Dr Aulia Sani, SpJP, bahkan pernah menangani pasien jantung koroner pemuda usia 22 tahun. "Dia merokok sejak usia 9 tahun," kata Sani. Pembuluh darah koroner pemuda itu terpaksa dipasangi cincin (stent).

Faktor utama penyakit jantung koroner, kata Aulia, memang rokok. Penyakit ini menjadi penyebab kematian nomor wahid. Data WHO menyebutkan, pada 2005 rokok diperkirakan menyebabkan 400 ribu kematian atau 23,7 persen dari 1,7 juta kematian.

Masalahnya, tidak mudah bagi perokok untuk berhenti merokok. Menurut Dr Tribowo T. Ginting, SpKJ, dari RS Persahabatan, 70 persen perokok ingin berhenti. "Tapi hanya 5-10 persen yang bisa berhenti tanpa bantuan," ujarnya. Mereka yang bisa berhenti biasanya perokok yang belum kecanduan. Dengan susahnya berhenti merokok, jumlah perokok selalu naik.

Di Indonesia, menurut data WHO, tren jumlah konsumsi rokok dan jumlah perokok muda kian besar. Dari 1960 hingga 2004, konsumsi rokok naik 6,2 kali lipat, dari 35 miliar batang menjadi 217 miliar batang per tahun. Jumlah anak yang memulai merokok sebelum umur 19 tahun juga naik 10 persen dari 2001 hingga 2004. Pada 2001-2004, perokok usia 15 tahun ke atas jumlahnya naik 2,9 persen.

Survei Global Tembakau Pemuda-Indonesia pada 2006 menyebutkan, satu dari tiga anak (37,3 persen) pernah merokok. Mereka yang pertama kali merokok sebelum genap 10 tahun sebanyak 30,9 persen. Anak muda yang tetap merokok 12,6 persen dan 3,2 persen di antaranya dilaporkan kecanduan. Jika kecanduan, susah berhenti.

Jumlah perokok pasif juga naik. Aulia Sani memaparkan, dari rokok yang disulut, 20 persen asapnya diisap perokok. Sebanyak 5-10 persen tersangkut di filter rokok. Sisanya beredar di udara. Akibatnya, perokok pasif bisa terserang batuk dan bronkitis. "Begitu tua, perokok pasif bisa kena jantung koroner," kata Aulia.

Perokok pasif, ujarnya, memiliki risiko terkena kanker paru dan jantung koroner hingga 20-30 persen dibanding yang tak terpapar asap rokok. Ruang khusus merokok, kata dia, tiada guna.

Ini senada dengan hasil pengukuran Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta dengan Swisscontact Foundation Indonesia. Kedua lembaga itu menemukan, nikotin yang banyak beredar di udara berukuran 2,5 mikrometer (PM 2.5) di kawasan dilarang merokok total kurun waktu Agustus-September 2009.

Di sekolah, 32 persen lokasi udaranya terkontaminasi nikotin. Di rumah sakit, ditemukan 68 persen wilayah udara tercemar nikotin. Paling parah adalah di tempat hiburan, di antaranya restoran. Di restoran ditemukan 86 persen lokasi hiburan yang udaranya tercemar nikotin. "Di restoran, kadar PM 2.5 mendekati 2.000 mikrogram/m3," kata Kepala Bidang Penegakan Hukum BPLHD Ridwan Panjaitan.

Padahal kadar maksimal yang ditoleransi menurut WHO adalah 25 mikrogram/m3. Menurut Direktur Eksekutif Swisscontact Foundation Indonesia Dollaris Riauaty Suhadi, ukuran PM 2.5 merupakan partikel yang sangat kecil dan bisa masuk ke paru-paru. "Tak ada teknologi yang bisa menyaringnya."

Sementara itu, menurut Aulia Sani, ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mengerem laju penyakit jantung koroner usia muda ini. Pertama, mencegah lahirnya perokok baru dan, kedua, menyembuhkan pecandu rokok. Pencegahan perokok dini dilakukan dengan melakukan edukasi terhadap anak yang belum pernah merokok. "Kampanye dilakukan sejak anak-anak masih kecil," kata dia.

Untuk itu, perlu dilakukan kampanye antitembakau di sekolah-sekolah sejak taman kanak-kanak. Sedangkan bagi yang telanjur merokok dan belum kecanduan, bisa dilakukan terapi perilaku. Yang telanjur kecanduan pun masih bisa diobati, salah satunya dengan obat generik Varenicline Tartrate.

Obat itu menyuplai pengganti nikotin. "Varenicline Tartrate mengganti nikotin tapi tak membuat kecanduan," kata dia. Menurut Sani, Varenicline Tartrate akan memancing pelepasan dopamine dan endorphin.

NUR ROCHMI

http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2010/05/31/brk,20100531-251368,id.html
Read more ...

Ajak Sosialisasi Anak Berkebutuhan Khusus

Senin, 31 Mei 2010 - 10:36 wib

YOGYAKARTA – Pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) dinilai masih belum merata. Sebagai wujud kepedulian sekaligus ingin menumbuhkan semangat belajar ABK, digagaslah lomba kreativitas anak inklusif dan umum taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Benteng Vredeburg, Minggu, 30 Mei, kemarin. Ketua Panitia Lomba kreativitas Sarwadi di sela-sela acara mengungkapkan, acara tersebut dilaksanakan untuk memperingati bulan pendidikan yang jatuh pada Mei.

Menurutnya, pendidikan merupakan hak semua warga negara, sehingga siapapun berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. ”Bagi kami, pendidikan tidak pernah mengenal status sosial, jenis kelamin, kondisi fisik, ataupun perbedaan lainnya. Namun pada kenyataannya, kami merasa pendidikan belum merata utamanya terhadap kepedulian pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus,” ujarnya.

Sarwadi mengungkapkan,lomba tersebut merupakan wadah untuk mempertemukan anak-anak umum dengan ABK di dalam satu persepsi tentang persamaan. Selain itu, mereka juga bermaksud memperkenalkan model pendidikan inklusif bagi orang tua ABK maupun anak umum. ”Kami ingin mempertemukan anak umum dengan ABK. Karena kami yakin setiap anak pasti mempunyai suatu kelebihan yang hebat, terlepas dari semua kekurangan yang ada di diri mereka masing-masing,” tuturnya.

Dengan slogan Aku Pasti Bisa, pihaknya ingin mengajak semua anak bermain dan belajar bersama tanpa saling membedakan. Acara tersebut juga berniat ingin menumbuhkan semangat belajar dan menanamkan keyakinan pada ABK dan juga anak-anak umum, sekalipun mereka memiliki kekurangan dalam diri.

Perlombaan yang digelar antara lain lomba baca puisi, mewarnai, dan menggambar. Para peserta lomba baca puisi memperebutkan trofi Gubernur DIY, lomba menggambar memperebutkan trofi Wali Kota Yogyakarta, dan trofi Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta diperebutkan dalam lomba mewarnai.

Salah satu orang tua ABK Zulaikha mengatakan, anaknya yang bernama Muhammad Rizki Aditya baru pertama kalinya mengikuti perlombaan. Keikutsertaan Rizki dalam lomba mewarnai bertujuan untuk melatih konsentrasinya. ”Anak saya penderita autis yang cenderung hiperaktif. Dengan ikut acara-acara seperti ini, saya berharap dia bisa bersosialisasi dengan anak normal seumurannya. Selain itu, bisa sebagai latihan agar konsentrasinya bisa lebih terfokus,” ujarnya.
Jangan ketinggalan berita tentang Piala Dunia 2010, hanya di Okezone.com


Menurut Zulaikha, Rizki harus mendapat ekstra pendampingan meski tampaknya dia normal-normal saja. Sifatnya yang cenderung melukai diri sendiri dan orang lain kadang terjadi jika dirinya merasa tidak nyaman dan marah. Namun ternyata dibalik kekurangannya itu, Rizki termasuk anak yang jenius dengan IQ 130.

”Saya percaya Tuhan maha adil. Meski anak saya autis tapi dia diberi otak yang cerdas. Bahkan terkadang saya kalah kalau sudah menyangkut informasi-informasi di televisi karena hobinya menonton berita setiap hari,” ungkapnya.
(Koran SI/Koran SI/rhs)

http://kampus.okezone.com/read/2010/05/31/373/337744/ajak-sosialisasi-anak-berkebutuhan-khusus
Read more ...

Jabar Gelontorkan Rp 2 M untuk Atasi Gizi Buruk

Kamis, 27 Mei 2010 | 11:21 WIB

BANDUNG, TRIBUN-Dinas Kesehatan Jawa Barat menganggarkan dana Rp 2 miliar khusus untuk membentu balita yang menderita gizi buruk.

Kadinkes Jabar, Alma, mengatakan bantuan keuangan gubernur ini disebar di 26 kabupaten dan kota di Jabar.

"Pemanfaatan uangnya untuk memberian makanan tambahan para penderita , biaya pendampingan oleh kader, biaya tunggu bagi yang dirawat di RS biaya verifikasi, pembinaan, dan evaluasi," ujarnya di Bandung, beberapa saat lalu.

Di Jabar sendiri kini tercatat tak kurang dari 1.500 penderita gizi buruk.

http://tribunjabar.co.id/read/artikel/22206/jabar-gelontorkan-rp-2-m-untuk-atasi-gizi-buruk
Read more ...

KPAI: Pemerintah Biarkan Iklan Rokok Secara Permisif

Senin, 31 Mei 2010 09:06 WIB

Magelang (ANTARA News) - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai, pemerintah terkesan membiarkan iklan rokok secara permisif sehingga jumlah perokok aktif bukan turun tetapi malah bertambah dengan usia prevalensi semakin muda.

"Pemerintah membiarkan iklan rokok secara permisif sehingga setiap saat yang terjadi bukan penurunan perokok aktif tetapi malah terus bertambah dan makin lama usia prevalensi perokok semakin muda," kata Ketua KPAI, Hadi Supeno, di Magelang, Senin.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan tanggal 31 Mei sebagai "Hari Tanpa Tembakau".

Ia mengatakan, sejumlah kasus balita kecanduan rokok seperti di Malang, Sukabumi, dan Palembang adalah menyangkut anak-anak korban iklan rokok.

Pemerintah, katanya, harus segera mengeluarkan peraturan pemerintah tentang larangan total segala bentuk rokok dan sponsor rokok untuk semua kegiatan masyarakat.

"Di dalamnya juga tercantum sanksi berat bagi yang melanggar ketentuan. Tanpa larangan iklan rokok, upaya dan kampanye masyarakat tanpa tembakau hanya utopia," katanya.

Hingga saat ini, katanya, pemerintah belum menandatangani peraturan pemerintah tentang perlindungan masyarakat dari ancaman tembakau sebagaimana diamanatkan Pasal 116 Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

Ia mengatakan, pemerintah harus menurunkan kuantitas industri rokok hingga jumlah paling rendah. Pada saat yang sama pemerintah menaikkan cukai rokok sehingga penurunan industri itu tidak mengurangi pendapatan negara dari rokok.

"Hingga tahun 2010 pemerintah terus mengizinkan produksi tembakau setahun 260 miliar batang dan pemerintah mempertahankan cukai murah, hanya 30 persen dari harga rokok. Padahal di Thailand sampai 60 persen, di Singapura dan Malaysia sampai sekitar 55 persen," katanya.

Pemerintah, katanya, mengintrodusir Pasal 113 UU Nomor 36 tahun 2009 tentang berbagai upaya mencegah ketergantungan terhadap zat nikotin.
(M029/A024)

http://www.antaranews.com/berita/1275271619/kpai-pemerintah-biarkan-iklan-rokok-secara-permisif
Read more ...

Jajanan Anak Sekolah Memprihatinkan

Senin, 31 Mei 2010 - 15:40 WIB

JAKARTA (Pos Kota) – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kustantinah merasa prihatin dengan masih rendahnya tingkat keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS).

“Sembilan belas persen keracunan terjadi di sekolah,” ungkap Kustantinah pada ”Lokakarya Jejaring Promosi Keamanan Pangan”, Senin (31/5) di Jakarta. Turut menjadi pembicara Meneg PP & PA Linda Amalia Sari Gumelar.

Kustantinah mengatakan, hasil pengawasan Direktorat Inspeksi dan Pangan BPOM bersama 26 Balai Besar POM di seluruh Indonesia pada 2007 menunjukan, 43 persen PJAS tidak memenuhi syarat karena mengandung bahan kimia berbahaya seperti formalin, boraks, rhodamin dan bahan tambahan pangan.

Untuk mengatasi masalah ini, Kustantinah mengimbau peran orang tua terutama kaum ibu lebih maksimal mengawasi dan mengarahkan makanan anak. Di samping itu perlu ditingkatkan kerjasama terpadu yang melibatkan lintas sektor seperti Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Kesehatan, Kemeneg PP dan PA, Kementerian Perdagangan dll. (aby/B)

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/05/31/jajanan-anak-sekolah-memprihatinkan
Read more ...

Sunday, 30 May 2010

RSBI Dimanjakan, Non-RSBI “Dimatikan”?

* Kamis, 3 Juni 2010 | 15:09 WIB

JAKARTA - SURYA - Pernyataan Wakil Presiden Boediono untuk menutup sekolah-sekolah yang dianggapnya tidak mampu memenuhi standar dinilai semakin tidak berpihak pada kebutuhan masyarakat kecil akan pendidikan.

Dari sini kita melihat, sebetulnya negara telah gagal memberikan layanan pendidikan pada semua warga negaranya. Kontras dengan RSBI/SBI.
Ade Irawan

Demikian ditegaskan Koordinator ICW Bidang Pendidikan kepada Kompas.com di Jakarta, Kamis (3/6/2010). Menurut dia, pernyataan Wapres itu sangat kontras dibandingkan dengan tekad kuat pemerintah mengembangkan sekolah-sekolah publik menjadi rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI)/sekolah berstandar internasional (SBI).

Diberitakan sebelumnya dalam dialog dengan komunitas pendidikan se-Yogyakarta di SMA Negeri Teladan I di Yogyakarta, Rabu (2/6/2010), Wapres menyatakan, berdasarkan pemetaan hasil ujian nasional (UN), sekolah-sekolah yang belum memenuhi standar akan dibantu. Namun, jika sudah berkali-kali dibantu, tetapi masih belum bisa memperbaiki diri dan tetap jelek, lebih baik sekolah tersebut ditutup.

“Dari sini kita melihat, bahwa sebetulnya negara justeru telah gagal memberikan layanan pendidikan pada semua warga negaranya. Jelas, ini kontras sekali dengan rencana-rencana pemerintah pada RSBI atau SBI,” kata Ade.

Ade menambahkan, pemerintah terlihat semakin mendorong pendidikan nasional mengarah pada area privatisasi. Sekolah-sekolah publik atau negeri berstatus RSBI yang sudah bagus fasilitasnya justeru seolah dimanjakan dengan diberi dana pembinaan lebih besar ketimbang sekolah publik non-RSBI.

“Istilahnya, sekolah negeri yang sudah sekarat malah dimatikan. Bukan apa-apa, yang di sekolah-sekolah non-RSBI itu kan kebanyakan orang miskin atau menengah ke bawah,” ujar Ade.

latief/kcm

http://www.surya.co.id/2010/06/03/rsbi-dimanjakan-non-rsbi-dimatikan.html
Read more ...

Bayi Hydrocephalus Perlu Bantuan

02/06/2010 10:13 | Hydrocephalus

Arif Nur

* Tiap Hari Kepala Willy Kian Membesar

Liputan6.com, Blora: Sungguh malang nasib Muhammad Lukman Hakim. Bayi berusia setahun itu mengalami hydrocephalus atau pembesaran di bagian kepala. Hidupnya kini tergantung pada selang yang menempel di tengkorak kepala. "Kami pasrah. Tidak tahu harus bagaimana lagi," kata Siti, ibu Lukman ketika ditemui di rumahnya di Tunjungan, Blora, Jawa Tengah, baru-baru ini.

Menurut Siti, selang di kepala Lukman sengaja ditanam tim dokter sejak setahun silam. Selang ini dianggap sebagai satu-satunya cara Lukman bertahan hidup dan melawan penyakit hydrocephalus.

Penderitaan Lukman tak luput dari kemiskinan yang dialami Siti dan keluarga. Sebagai buruh tani, Siti tak mampu mencukupi kebutuhan gizi lukman sejak masih dalam kandungan. Ini membuat Lukman mengalami pembengkakan di bagian kepala sejak di dalam kandungan. "Saat itu posisi anak saya terbalik atau sungsang," tambah Siti.

Ironisnya, saat itu ayah Lukman, Yanto, pergi meninggalkan Siti dan anaknya. Dia tak sanggup melihat kenyataan pahit saat melihat kondisi Lukman. Yanto memilih pergi daripada mengakui Lukman sebagai anak.

Siti menambahkan, sebenarnya Siti pernah menjalani perawatan di rumah sakit. Namun, keluarga tak sanggup membiayai sehingga akhirnya Lukman kembali dibawa pulang ke rumah. Saat ini, Lukman tinggal di rumah neneknya dengan kondisi kepala yang semakin hari kian membesar. "Saya benar-benar pasrah," ujar Siti, sedih.(ULF)

http://kesehatan.liputan6.com/berita/201006/279768/Bayi.Hydrocephalus.Perlu.Bantuan
Read more ...

Batuk Bandel Bisa Jadi Gejala Asma Pada Anak

Kamis, 03/06/2010 14:56 WIB

Merry Wahyuningsih - detikHealth

Jakarta, Gejala asma tidak melulu napas sesak atau berbunyi ngik-ngik. Orangtua dan guru di sekolah harus jeli mengenali gejala asma pada anak, karena batuk yang membandel juga merupakan gejala asma.

Hal ini disampaikan oleh Dr Darmawan Budi Setyanto, SpA(K), dari Yayasan Penyantun Anak Asma Indonesia Suddhaprana & Pusat Asma Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, dalam acara seminar sehari bertajuk 'Peran Guru dalam Pengendalian Asma pada Anak Sekolah' di Aula FKUI, Jakarta, Kamis (3/6/2010).

Asma merupakan penyakit kronik (menahun) pada bronkus (saluran napas bawah), dengan gejala yang timbul berulang secara akut (mendadak) dan terjadi berulang-ulang. Asma juga merupakan salah satu penyakit turunan dan diketahui bahwa faktor ibu lebih kuat untuk menurunkan asma pada anak.

Menurut Dr Darmawan, asma pada anak tidak selalu memberi gejala sesak dan napas berbunyi ngik-ngik (mengi) seperti pada pasien dewasa. Seringkali gejala yang menonjol hanya batuk saja, tapi bukan batuk sembarang batuk, melainkan batuk yang membandel.

Pengertian batuk 'bandel' mencakup beberapa keadaan yang mirip, yaitu:

1. Batuk yang berlangsung lama, biasanya lebih dari 2 minggu
2. Sulit sembuhnya
3. Membaik sebentar kemudian kambuh lagi
4. Timbul berulang dalam selang waktu pendek


Batuk pada anak asma akan timbul jika si anak terpapar dengan faktor pencetus, yang dapat berupa:

1. Lingkungan rumah, seperti debu rumah, asap rokok, kapuk, atau bulu binatang
2. Makanan, seperti es, permen, coklat, kacang tanah, gorengan, snack gurih yang mengandung vetsin atau MSG
3. Faktor lain seperti selesma (infeksi saluran napas akut), aktivitas fisik berlebihan, kelelahan atau perubahan cuaca


"Batuk asma memiliki ciri lain, yaitu lebih berat pada malam hari atau dini hari, atau pada saat bangun tidur," ujar dokter speasialis anak yang juga ahli paru RSCM.

Dr Darmawan menambahkan, terkadang perbedaan intensitas batuk antara siang dan malam hari demikina ekstrim. Akibatnya, pada anak yang telah bersekolah akan mengantuk di sekolah atau bahkan bolos, dan orangtuanya mengantuk saat bekerja di kantor.

Inilah yang biasanya membuat prestasi anak asma menurun. Tapi gejala asma yang berat serta dampaknya terhadap prestasi di sekolah bisa diatasi, bila gejala asma pada anak dapat dikenali dengan baik serta penghindaran terhadap faktor pencetusnya.

Gejala lain asma pada anak yaitu:

1. Batuk berdahak, berulang, lama
2. Napas bunyi ngik-ngik
3. Napas cepat dan sesak
4. Sakit dada
5. Susah berkata-kata
6. Biru di sekitar mulut

(mer/ir)

http://health.detik.com/read/2010/06/03/145657/1369199/764/batuk-bandel-bisa-jadi-gejala-asma-pada-anak?l991101755
Read more ...

Imbalan Dana Rp 50 Juta untuk Perempuan yang Tidak Aborsi

Kamis, 03/06/2010 10:42 WIB

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Milan, Aborsi tidak pernah bisa dipandang hanya dari sisi norma dan agama, sebab aspek ekonomi kerap menjadi alasan untuk menggugurkan kandungan. Salah satu wilayah di Italia mencoba menekan tingkat aborsi dengan iming-iming uang tunai.

Dikutip dari BBC, Kamis (2/6/2010), pemicu tingginya tingkat aborsi di Italia adalah masalah ekonomi. Karena tidak mampu membesarkan anak dan memberikan biaya hidup banyak perempuan di Italia yang melakukan aborsi.

Melihat fenomena aborsi yang terus naik, Gubernur Lombardy, Roberto Formigoni akan memberi imbalan kepada ibu hamil yang tidak menggugurkan kandungan.

Imbalan tersebut berupa uang tunai senilai 4.500 euro, setara dengan 5.500 dolar AS atau sekitar Rp 50-51 juta. Untuk mendanai kebijakan tersbut, Formigoni telah menganggarkan 5 juta Euro atau 6,1 juta dolar AS.

Tentunya tidak semua wanita hamil bisa mendapat imbalan tersebut. Untuk mendapatkan haknya, ibu hamil harus membuktikan bahwa dirinya mengalami kesulitan ekonomi untuk menanggung biaya hidup bayinya selama 18 bulan sejak
melahirkan.

Dukungan atas kebijakan antiaborsi tersebut antara lain datang dari Keuskupan Italia. Melalui juru bicaranya, Gereja Katholik menilai setiap kebijakan pemerintah yang menghargai kehidupan harus diapresiasi.

Meskipun begitu, tak sedikit yang mencibir kebijakan tersebut. Media online Italia, La Repubblica menulis bahwa rencana itu hanya memberikan solusi jangka pendek selama 18 bulan. Padahal yang harus ditanggung seorang ibu adalah seumur hidup si anak.

Roberto Formigoni yang merupakan sekutu politik Perdana Menteri Silvio Berlusconi yang dikenal getol memerangi aborsi. Saat menjabat anggota parlemen Eropa tahun 1989, ia mengutuk pengguguran janin perempuan berusia 5 bulan karena didiagnosis mengalami kelainan genetik.

Di Italia aborsi telah dilegalkan sejak tahun 1978. Ketentuannya, usia kandungan tidak boleh melebihi 90 hari, atau 24 minggu jika secara medis nyawa ibu yang mengandungnya dalam bahaya.

Kebijakan ini disesuaikan pada tahun 1988. Ibu hamil hanya boleh menggugurkan kandungannya jika mendapat izin dari suaminya.

(up/ir)

http://health.detik.com/read/2010/06/03/104230/1368890/764/imbalan-dana-rp-50-juta-untuk-perempuan-yang-tidak-aborsi?l993306763
Read more ...

Thursday, 27 May 2010

Sekolah Berstandar Internasional Tidak Boleh Eksklusif

Rabu, 26 Mei 2010, 19:31 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,DENPASAR--Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengingatkan sekolah berstandar internasional atau rintisan sekolah berstandar internasional tidak boleh eksklusif.

"Jika sampai memposisikan diri sebagai sekolah eksklusif, maka akan menimbulkan kecemburuan di masyarakat," katanya usai mendampingi Wakil Presiden Boediono pada silaturahmi dengan kalangan SMA/SMK Kota Denpasar, Bali, Rabu.

Pernyataan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) itu terkait adanya usulan agar Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003 diamandemen, karena dinilai telah mendorong daerah membentuk rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI) dan sekolah berstandar internasional (SBI) yang menciptakan kastanisasi dalam dunia pendidikan.

Menurut dia, spektrum sekolah di Indonesia sangat luas, sementara di lain pihak Bangsa Indonesia dihadapkan pada kebutuhan akan sekolah-sekolah berstandar internasional. Yang terpenting, kata menteri, SBI tidak boleh menjadi eksklusif, tetapi harus terbuka untuk semua siswa tanpa membedakan latar belakang ekonomi keluarganya.

"Inti dari semua ini adalah agar SBI tidak menjadi eksklusif untuk siapa pun, tetapi harus terbuka, jangan hanya untuk orang kaya, tetapi untuk semua masyarakat. Jika SBI hanya menjaring siswa-siswi dari kalangan orang kaya, akan menimbulkan kecemburuan," katanya.

Hal itu juga terkait dengan rencana Kementerian Pendidikan Nasional mengevaluasi RSBI untuk memantau mutu RSBI, sekaligus menanggapi banyaknya keluhan masyarakat mengenai penarikan dana yang terlalu tinggi oleh RSBI.

Sedangkan tentang hasil ujian nasional (UN), mendiknas mengatakan hingga saat ini proses evaluasi belum selesai karena harus dilakukan menyeluruh.

"Evaluasi masih berjalan, dan dilakukan menyeluruh, yakni tidak hanya terhadap hasil ujian nasional (UN) SBI, tetapi juga dari sisi pembiayaan. Karena kalau saya baca dari keluhan masyarakat selama ini, SBI selalu kaitannya dengan mahal. Padahal tujuan utama SBI kaitannya dengan mutu," katanya.

Mengenai adanya usulan agar UU Sisdiknas diamandemen, menurut dia UU tersebut tidak perlu diamandemen jika hendak melakukan pengevaluasian terhadap program SBI dan RSBI.
"Revisi UU itu akan mencerminkan sebenarnya hal itu dibutuhkan atau tidak. Jika memang mencerminkan kebutuhan, kita buat UU yang baru tanpa harus merevisi UU Sisdiknas yang sudah ada," kata Mohammad Nuh.

Red: taufik rachman
Sumber: antara

http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/05/26/117317-sekolah-berstandar-internasional-tidak-boleh-eksklusif
Read more ...

Anak-anak Bergizi Buruk Kampung Noyadi "Berfestival Batuk"

Rabu, 26 Mei 2010 12:54 WIB

Mamberamo (ANTARA News) - Bagi banyak masyarakat asli Papua, Kampung Noyadi, boleh jadi, merupakan nama yang tidak dikenal walaupun perkampungan itu ada di kawasan Mamberamo.

Hanya segelintir pilot berkebangsaan lain, yaitu mereka yang sering melayani penerbangan di Distrik Mamberamo Tengah Timur (MTT), Kabupaten Mamberamo Raya, Papua, yang bisa dengan pasti memberikan jawaban letak kampung tersebut.

Kampung Noyadi merupakan satu dari enam kampung di Distrik MTT, Kabupaten Mamberamo Raya.

Distik MTT dikenal sebagai daerah yang paling sulit dijangkau di kabupaten tersebut karena letaknya yang berada di tengah lebatnya hutan dan derasnya arus sungai Mamberamo.

Daerah itu dibentengi lereng perbukitan yang terjal dan kokoh. Di daerah seperti itulah Kampung Noyadi berada.

Noyadi hanya bisa dijangkau dengan pesawat berbadan kecil berpenumpang lima orang, dengan waktu tempuh kira-kira satu setengah jam perjalanan dari Bandara Sentani, Jayapura.

Wartawan ANTARA Jayapura yang mengikuti perjalanan tim Sensus Penduduk 2010 berkesempatan melihat kondisi kehidupan masyarakat di sana.

Masyarakat Noyadi, sama halnya dengan masyarakat lainnya yang ada di distrik MTT, hidup dengan berkebun dan bercocok tanam serta mencari sagu hutan sebagai makanan pokok.

Tingkat kesejahteraan mereka bisa dilihat dari kenyataan bahwa hampir seluruh anak-anak di kampung itu menderita gizi buruk.

Badan mereka kelihatan sangat kurus dengan perut yang membuncit. Kondisi itu masih ditambah dengan kulit mereka yang korengan.

Koreng di tubuh mereka itu, selintas, tampak seperti tato atau peta yang di sekujur tubuhnya.

Ketika malam hari tiba, perkampungan itu berubah seperti arena festival batuk, yang pesertanya didominasi anak-anak, yaitu mereka yang umumnya bergizi buruk dan korengan tersebut.

Suara batuk khas para penderita TBC itu terus bersahut-sahutan pada malam hari itu, seakan mereka tidak memberikan kesempatan pada tetangga mereka untuk batuk lebih hebat.

Para pendatang, termasuk para petugas sensus, pasti terganggu dengan suara batuk tersebut. Apalagi, rumah-rumah di kampung itu, yang berdinding dan lantai papan, saling berdekatan, sehingga suara batuk dari rumah sebelah seperti ada di rumah yang sama yang sedang ditempati.

Kepala Kampung Noyadi Kales Alle mengatakan, penyakit gizi buruk yang menimpa anak-anak di kampunng itu sudah berlangsung lama.

"Inilah kondisi kami di sini. Memang ada petugas yang turun memberikan pelayanan kesehatan dan membagikan obat, tetapi itu sangat jarang dilakukan. Dalam setahun saja belum tentu ada tenaga kesehatan yang datang ke sini," katanya.

Kales Alle menceritakan juga soal penyakit batuk yang diderita oleh anak-anak di kampungnya, yang menurutnya adalah sebuah wabah yang sangat berbahaya.

"Kasihan anak-anak kami, sudah banyak yang meninggal dunia karena penyakit yang mereka derita. Dalam satu bulan bisa satu atau dua orang anak yang meninggal," katanya.

Sekretaris kampung itu, Beni Aswa, yang memberikan keterangan bersama Kales Alle, menyatakan, para pengurus desa itu berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah setempat mengenai kesehatan di sana.

Menurut dia, warga ingin ada pelayanan kesehatan yang lebih rutin demi keselamatan generasi penerus kampung.

Pengurus kampung itu mengakui hampir semua anak di distrik MTT, seperti Kustra, Obogoi, dan Biri, memiliki permasalahan gizi buruk.Tapi, kondisi terburuk ada di Noyadi.

Keadaan itu membuat para kepala kampung, yaitu Kales Alle selaku Kepala Kampung Noyadi, Tomas Seido Kepala Kampung Obogoi, dan Rudi Asua Kepala Kampung Biri, meminta wujud nyata keberpihakan pemerintah daerah setempat dan provinsi terhadap orang asli Papua tersebut.

"Katanya ada dana Otonomi Khusus yang jumlahnya puluhan triliun rupiah dan kebanyakan digunakan untuk bidang pendidikan dan kesehatan. Tetapi kami yang di pedalaman ini kenapa masih menderita seperti ini?" kata Tomas Seido.

Kenyataan di perkampungan itu memang berbeda dengan kebijakan Gubernur Papua dalam bidang kesehatan dan pendidikan.

Penyakit korengan, gizi buruk, dan batuk di perkampungan itu masih terjadi ketika Gubernur Papua menerapkan program pendidikan dan kesehatan gratis untuk orang asli di provinsi paling timur Indonesia itu.

Masyarakat setempat juga mempertanyakan kebijakan turun kampung Gubernur mereka yang belum kunjung ke daerah itu. Padahal, kebijakan itu dilakukan agar Gubernur bisa melihat secara langsung kondisi masyarakatnya dan memberikan bantuan kepada masyarakat di pelosok.

Kondisi itu ditambah kenyataan jarangnya Kepala Distrik MTT berada di kantornya, sehingga warga seperti tak memiliki tempat mengadu.

"Pak Distrik memang jarang ada di tempat tugas. Palingan hanya beberapa bulan sekali dan itupun cuma beberapa hari beliau ada di tempat tugas. Selebihnya selalu ke luar," kata Kales Alle.

Ketika ANTARA tiba di Kampung Kustra, ibu kota Distrik MTT, pernyataan itu terbukti.

Kantor distrik yang menjadi tempat pemerintahan kosong tak berisi, tak ada seorang pun pegawai distrik setempat berada di sana.

"Bapak Distrik tinggal di Kasso (sebutan untuk Kassonaweja, ibukota kabupaten Mamberamo Raya)," kata seorang warga Kampung Kustra.

Kasso merupakan sebutan bagi Kassonaweja, ibu kota Kabupaten Mamberamo Raya, yang bisa dicapai dalam tiga jam perjalanan mengikuti arus Mamberamo dengan "speed boat" bermesin 40 PK.(KR-MBK/S018)

http://www.antaranews.com/berita/1274853281/anak-anak-bergizi-buruk-kampung-noyadi-berfestival-batuk
Read more ...

Wednesday, 26 May 2010

Bakteri Tanah Tumbuhkan Otak Anak

Rabu, 26 Mei 2010 11:39 WIB

Penulis : Ikarowina Tarigan

CEMAS setiap kali melihat anak kesayangan Anda bermain lumpur atau tanah jorok? Hilangkan kekhawatiran Anda dan biarkan anak mengekspresikan diri. Cara ini, menurut temuan peneliti, bisa meningkatkan kecerdasan anak.

Setelah melakukan serangkaian percobaan, peneliti menemukan bahwa paparan terhadap bakteri tertentu di lingkungan bisa meningkatkan kemampuan belajar.

"Mycobacterium vaccae merupakan bakteri tanah alami yang cenderung ditelan atau dihirup saat orang-orang menghabiskan waktu di alam," tutur peneliti Dorothy Matthews dari The Sage Colleges di Troy, New York, seperti dikutip situs ScienceDaily.com, Selasa (25/5).

Studi-studi sebelumnya yang mempelajari M. vaccae pada tikus menemukan, bakteri tersebut bisa menstimulasi pertumbuhan beberapa neuron di otak. Hal ini menyebabkan peningkatan kadar serotonin dan mengurangi kecemasan.

"Karena serotonin berperan dalam proses belajar. Kami mencari tahu apakah M. vaccae hidup bisa memperbaiki proses belajar pada tikus," terang Matthews. Matthews dan timnya ternyata menemukan hasil positif.

"Kami menemukan bahwa tikus yang diberikan bakteri hidup dapat menyusuri maze (lorong berliku-liku) dua kali lebih cepat dan dengan tingkat kecemasan lebih rendah dibandingkan tikus yang tidak diberikan bakteri tersebut."

Menurut Matthews, akan sangat menarik jika sekolah menciptakan lingkungan belajar yang melibatkan aktivitas menghabsikan waktu di luar ruangan. Saat berada di luar ruangan, anak bisa mendapatkan M. vaccae untuk menurunkan kecemasan dan memperbaiki kemampuan mempelajari tugas-tugas baru. (IK/OL-08)

http://www.mediaindonesia.com/mediahidupsehat/index.php/read/2010/05/26/2624/2/Bakteri-Tanah-Tumbuhkan-Otak-Anak
Read more ...

Monday, 24 May 2010

Risiko Penularan HIV Saat Hamil Lebih Tinggi

Senin, 24/05/2010 11:16 WIB

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Nairobi, Perempuan-perempuan di Afrika yang sedang hamil, berisiko lebih tinggi tertular HIV jika selama hamil masih melakukan hubungan seks dengan pasangannya. Perempuan hamil ini memiliki risiko penularan HIV hingga 2 kali lipat.

Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh University of Nairobi, terhadap lebih dari 3.300 pasangan yang didiagnosis positif HIV. Jumlah pasien yang terinfeksi tersebut meliputi 1.085 pria dan 2.236 wanita.

Dikutip dari Healthday, Senin (24/5/3010), penelitian itu dilakukan di Bostwana, Kenya, Uganda, Rwanda, Zamibia, Tanzania dan Afrika Selatan. Dalam pengamatan selama 2 tahun, kehamilan terjadi pada 823 pasangan.

Peningkatan risiko terjadi baik pada penularan dari pria ke wanita, maupun sebaliknya. Namun menurut penelitian tersebut, pengaruh pada penularan dari wanita ke pria lebih kuat dan nyata.

Diduga hal ini terkait dengan perubahan fisiologis dan imunologis pada wanita selama kehamilan, yang secara pasti belum terungkap dalam penelitian ini. Yang jelas, peningkatan risiko HIV tersebut tidak dipengaruhi oleh status sunat atau tidaknya si pria, maupun penggunaan alat pengaman saat berhubungan seksual.

Sementara pada wanita peningkatan risiko lebih disebabkan oleh faktor-faktor terkait kehamilan itu sendiri. Di antaranya meliputi perubahan pada perilaku seksual selama kehamilan.

Temuan ini akan dipresentasikan dalam International Microbicides Conference di Pittsburgh.

(up/ir)

http://health.detik.com/read/2010/05/24/111620/1362829/764/risiko-penularan-hiv-saat-hamil-lebih-tinggi?l991101755
Read more ...

DPRD Malang Tagih Janji Pendidikan Gratis Untuk Keluarga Miskin

Ahad, 23 Mei 2010, 15:43 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,MALANG--anggota DPRD dari Fraksi PKS, Isa Ansori dan Bambang Triyoso menyesalkan adanya pungutan hingga Rp 2,7 juta untuk masuk SMKN di Malang. Apalagi kebijakan serupa berlaku untuk anak dari keluarga miskin.

Menurut Isa Anshori, pendidikan bagi anak Gakin sudah ada komitmen khusus. Komitmen itu, kata dia, berupa pengratisan biaya pendidikan. ''Ini sesuai dengan komitmen dari Kepala Dinas Pendidikan HM Shofwan,'' tegasnya.

Untuk itu, dia berjanji akan mempertanyakan masalah komitmen tersebut. Dia khawatir komitmen itu justru masih belum sampai ke tiap sekolah. Makanya, tandas dia, perlu dipertegas lagi apakah komitmen Kepala Dinas HM Shofan itu sudah sampai ke sekolah atau belum.

Hal senada juga diungkapkan Ketua KOmisi D, DPRD Kota Malang, MSyaiful Rusdi. Dia menjelaskan bahwa dengan adanya kasus ini, Dinas Pendidikan harus segera melakukan pengecekan ke tiap sekolah.

Alasannya, HM Shofwan sebelumnya sudah berjanji tidak akan memperbolehkan sekolah menarik biaya pada anak Gakin. ''Tidak peduli tarikan itu dikemas dengan apa, yang jelas itu tidak dibenarkan,'' tandasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang Shofwan ketika dikonfirmasi berjanji akan melakukan klarifikasi terhadap SMKN 2 dan SMKN 6 itu. Menurut dia, memang sekolah tidak ada larangan untuk tak menarik biaya. Namun, bagi anak dari Gakin seharusnya ada keringanan sesuai dengan syarat dan prosedur yang ada.

Dia contohkan, seperti pihak sekolah menurunkan tim survei ke rumah orang tua siswa. Jika memang berdasarkan hasil survei itu benar-benar tak mampu, maka siswa yanag bersangkutan diberi keringanan. ''Bahkan, jika perlu digratiskan,'' terang HM SHofwan.

Karena itu, dia akan mengedarkan surat pemberitahuan kepada sekolah-sekolah agar memberikan keringanan bagi siswa dari Gakin. Sehingga, siswa-siswa dari Gakin itu bisa sekolah seperti anak-anak dari non Gakin dengan layak dan baik. n a haji

Red: taufik rachman
Rep: asan aji

http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/05/23/116784-dprd-malang-tagih-janji-pendidikan-gratis-untuk-keluarga-miskin
Read more ...

Mengurangi Kekambuhan Asma Pada Anak

Senin, 24/05/2010 09:16 WIB

Vera Farah Bararah - detikHealth

Denver - Serangan asma bisa terjadi kapan saja dan terkadang membuat anak menjadi cemas. Dengan terapi seni bisa membantu mengurangi kecemasan dan kekambuhan asma anak.

Peneliti menyarankan terapi seni dapat membuat anak-anak tidak menjadi cemas dengan kondisinya. Terapi ini juga dapat membantu meningkatkan kesehatan emosional anak-anak yang sakit kronis. Hasil studi ini dipublikasikan dalam edisi Mei Journal of Allergy & Clinical Immunology.

Pusat pengendalian penyakit dan pencegahan (CDC) Amerika Serikat menyebutkan gangguan pernapasan merupakan penyebab utama anak-anak tidak masuk sekolah.

Anak-anak yang memiliki asma cenderung dilanda rasa cemas jika sewaktu-waktu terjadi serangan asma. Kegelisahan ini bisa memicu dan memperburuk keadaan yang seharusnya hanya ringan saja.

Dalam terapi seni, anak-anak akan bekerja dengan krayon, cat dan bahan lainnya. Anak-anak ini akan dipandu oleh terapis untuk membantu mengungkapkan perasannya jika sulit berkomunikasi dengan kata-kata.

"Ini bukan tentang melukis gambar-gambar yang indah, tapi ini tentang sesuatu untuk membantu orang menggunakan seni dalam mengungkapkan dan melepaskan perasannya," ujar Anya Beebe, seorang terapis dari National Jewish Health di Denver, seperti dikutip dari Reuters, Senin (24/5/2010).

Pada akhir terapi didapatkan, anak yang menerima terapi seni memiliki kecemasan lebih rendah dan kualitas hidup yang lebih tinggi, dan perbaikan ini terus berlangsung pada 6 bulan berikutnya.

"Penggunaan terapi seni untuk anak-anak yang memiliki kasus asma berat atau asma kronis jelas terlihat manfaatnya. Anak-anak ini cenderung merasa lebih baik setelah melakukan terapi seni," ungkap Beebe.

Beebe menuturkan kesehatan fisik dan psikologis saling berhubungan, dan hal ini juga terlihat pada anak yang memiliki asma. Selain itu dengan terapi seni anak-anak yang asma bisa mengendalikan perasannya sehingga dapat mengurangi tingkat kekambuhannya.

(ver/ir)

http://health.detik.com/read/2010/05/24/091638/1362706/764/mengurangi-kekambuhan-asma-pada-anak?l993306763
Read more ...

Sertifikat TPA Tak Bisa Gugurkan Siswa

PadangKini.com | Jumat, 21/05/2010, 13:31 WIB

PADANG—Siswa Sekolah Dasar yang tidak memiliki sertifikat dari Lembaga Pendidikan Al-Quran tak bisa digugurkan masuk SMP saat mendaftar melalui PSB (Penerimaan Siswa Baru) Online.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang Bambang Sutrisno kepada PadangKini.com, Jumat (21/5/2010).

”Yang dijadikan patokan dalam penerimaan siswa baru itu tetap nilai Ujian Nasional (UN),” katanya.

Meski begitu, kata Bambang, sesuai Peraturan Daerah Kota Padang No. 06/2003 tentang Pandai Baca Tulis Al-Quran bagi Peserta Didik Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah, bagi siswa yang belum punya setifikat MDA dan TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) nanti di sekolahnya siswa tersebut diberi kesempatan 1 tahun untuk memperoleh sertifikat tersebut.

”Atau di sekolah juga bisa dibimbing, misalnya setiap Sabtu agar bisa baca tulis Al-Quran,” ujarnya.

Ia menegaskan tidak ada siswa SD yang tidak bisa masuk SMP karena tidak punya sertifikat baca tulis Al-Quran dari Lembaga Pendidikan Al-Quran.

Meski begitu, penerimaan siswa baru jalur RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) di SMP Negeri 8 Kota Padang malah mencantumkan syarat utama memiliki setifikat katam (tamat) Al-Quran dan pandai baca-tulis Al-Quran bagi siswa muslim yang mendaftar.

Bahkan siswa masuk juga dites baca Al-Quran, selain tes kemampuan bahasa Inggris dan komputer. Namun syarat bahasa Inggris dan komputer tidak mewajiban sertifikat di sekolah rintisan internasional itu. (ynt/s)

http://www.padangkini.com/berita/single.php?id=6434
Read more ...